7 Cara Mengajar Ala Rasulullah Yang Wajib Diketahui Para Pendidik

 4. Teladan

Tidaklah Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam menyampaikan atau memerintahkan sebuah amalan, melainkan beliau sudah melakukannya dalam kehidupan sehari-hari. Dengan diamalkan oleh pengajar, sebuah hikmah lebih bermakna dan memiliki daya ubah bagi peserta didik.

Tatkala Nabi menyampaikan soalan jujur, misalnya, maka beliau merupakan pribadi yang paling jujur di muka bumi. Ketika beliau memerintahkan umatnya untuk menikah, beliau sudah lebih dahulu menjalankan ibadah sunnah yang di dalamnya ada cicipan rasa surga itu.

Pasalnya, satu teladan jauh lebih bermakna di banding seribu nasihat. Dan ini, seharusnya menjadi bahan introspeksi bagi para pendidik, jika anak didik belum melakukan ajaran yang disampaikan, mungkin saja kita belum memberikan teladan kepada mereka terkait hal itu.

Bukankah ajakan shalat berjamaah akan lebih mudah ditaati jika yang mengajak sudah berpakaian rapi, bergegas mendatangi masjid, atau sudah ada di masjid lebih awal dari orang-orang yang diajak? Sebaliknya, apa makna ajakan untuk belajar dan mempelajari al-Qur’an kepada anak didik atau anak-anak kita, sementara kita yang menyampaikan sibuk dengan perangkat canggih, telepon cerdas, atau asyik duduk di depan televisi menikmati sajian tiada makna kecuali pamer aurat?

Secara khusus, metode memberi teladan juga mendapatkan perhatian yang sangat serius di dalam al-Qur’an yang mulia. Allah Ta’ala mengancam akan memberi murka yang besar bagi siapa yang mengatakan, menyampaikan, mendakwahi, tapi dirinya sibuk mengingkari apa yang dia katakan, sampaikan, dan dakwahkan kepada orang lain.

Jika belum mampu memberikan teladan paripurna, niat yang sungguh-sungguh cukuplah menjadi bukti, bahwa seorang pendidik benar-benar ingin berubah dengan memberikan teladan kepada anak-anak didiknya.

LANJUT BACA HALAMAN 4

loading...

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "7 Cara Mengajar Ala Rasulullah Yang Wajib Diketahui Para Pendidik "

Posting Komentar