Dimutasi jadi Guru Biasa Lagi, Kepsek Merasa Dizalimi

Selamat  Datang di PERANGKATGURU.COM- PALU - Kebijakan mutasi kepala sekolah (Kepsek) yang dilakukan Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Palu awal November lalu menjadi kritikan. Terutama bagi kepala sekolah yang harus kembali menjadi guru biasa.

Para kepsek yang kembali menjadi guru, merasa dizalimi dengan kebijakan tersebut. Selain dinilai tidak adil karena adanya ketimpangan di sana-sini, kebijakan ini juga dianggap memutus karir para kepsek. Sebab tidak dibolehkan lagi menjadi kepsek.

Para kepsek yang harus kembali menjadi guru, juga merasa aturan tersebut sangat tidak manusiawi.

Karena berdampak pada psikologi para kepsek yang sudah memimpin sekolah, namun harus kembali menjadi guru seperti sedia kala.

“Sangat tidak adil. Kami ini memiliki NUKS (nomor unik kepala sekolah), tapi kenapa dikembalikan menjadi guru. Ini NUKS, 3 bulan kami mengikuti diklat untuk mendapatkannya. Tapi saat kami menghadap kepala dinas, kok dibilang tidak dipakai itu NUKS. Aturan dari mana tidak pakai lagi NUKS? Nah, NUKS ini aturan nasional,” kata mantan Kepala SDN 2 Palu, Hj Erna SPd MPd, seperti diberitakan Radar Sulteng (Jawa Pos Group).

Saat pelantikan awal November lalu, Erna sudah dimutasi dari jabatanya sebagai kepsek. Tapi hingga kemarin, Erna belum melakukan sertijab dengan penggantinya.

Dikatakan, sangat banyak guru yang diangkat menjadi kepsek, namun tidak memiliki Nomor Unik Kepala Sekolah (NUKS) yang menjadi salah satu syarat menjadi kepsek.

Padahal ini disebutkan dalam Permendiknas Nomor 28 Tahun 2010 tentang Penugasan Guru sebagai Kepala Sekolah/Madrasah.

Padahal sebelumnya, ujar Erna, saat melakukan seleksi kepsek, Disdik Palu menyaratkan NUKS menjadi salah satu yang harus dipenuhi untuk mengikuti seleksi.

Bahkan, lanjutnya, adanya kepsek yang diangkat padahal hanya lulusan Kompetensi Profesional Guru (KPG). Malah ada kepsek yang diangkat sedang dalam keadaan sakit.

Ada juga kepsek yang diangkat sudah melebihi umur maksimal, yang lebih dari 56 tahun. Ini diatur dalam Permendiknas Nomor 28 Tahun 2010.

Menjadi kepsek juga harus memiliki sertifikat kepala sekolah atau NUKS, serta memiliki kualifikasi pendidikan minimal strata 1 atau diploma-IV, serta sehat jasmani dan rohani, dan umur maksimal 56 tahun.

“Tapi kenapa sekarang banyak yang tidak ada NUKS jadi kepsek. Sedangkan kami yang sudah ada NUKS, malah dijadikan guru biasa. Apa ini adil? Untuk apa NUKS-nya kami? Untuk apa kami kuliah sampai S2 (strata 2) kalau karir kami diputus sampai di sini?,” sesal Erna menolak kebijakan Disdik Palu.

LANJUT BACA HALAMAN 2

loading...

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Dimutasi jadi Guru Biasa Lagi, Kepsek Merasa Dizalimi"

Posting Komentar