Dimutasi jadi Guru Biasa Lagi, Kepsek Merasa Dizalimi

Erna yang saat itu ditemani mantan Kepala SDN Inpres 1 Lere, Saadiah Saehami menambahkan, mereka sudah mendatangi langsung kepala Disdik Palu mempertanyakan nasib mereka. Namun saat bertemu, kepala Disdik tetap pada pendiriannya tidak lagi mengangkat mereka jadi kepsek.

Alasannya, karena masa jabatan sebagai kepsek sudah 2 periode (4 tahun per 1 periode). Padahal kata Erna, NUKS itu berlaku hingga pensiun. Adapun aturan tentang kepsek yang hanya boleh 2 periode, sudah dibuatkan regulasi barunya dalam Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2017 tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah nomor 74 tahun 2008 tentang Guru. Dalam aturan baru ini, kata Erna, jabatan kepsek tidak lagi dibatasi hanya 2 periode, tapi berdasarkan kinerja.

“Saya sampaikan kepala Disdik, apakah kami yang dari kepsek ke guru, bisa jadi kepsek ulang? Dia bilang selama dia jadi kadis, kami tidak akan jadi kepsek lagi. Putus kan karir kami kalau begini. Kami tanyakan bagaimana yang tidak ada NUKS-nya? Katanya itu kebijakan. Tapi kami minta kebijakan juga, kok tidak diberikan. Di mana adilnya ini?,” geram Erna.

Sambil menitikkan air mata, Erna menjelaskan bahwa Disdik benar-benar tidak manusiawi menerapkan aturan.

Dia dan kepsek yang telah diganti, benar-benar diputus karirnya. Padahal masih menyisakan 6 tahun masa pensiun.

Bila Disdik mau benar-benar adil, jika semua kepsek dijadikan pengawas, atau kalau perlu semuanya dijadikan guru. Tapi-kan dalam seleksi yang dilakukan, ada yang diangkat menjadi pengawas.

Pengangkatan menjadi pengawas, lanjutnya, juga menyalahi aturan. Karena seleksi untuk menjadi pengawas mesti dilakukan seleksi tersendiri, dan tidak boleh diseleksi bersamaan seperti yang dilakukan Disdik baru-baru ini.

Data yang diperoleh Erna, ada 40 kepsek se-Kota Palu yang dijadikan guru biasa. Belum lama ini, dia dan beberapa kepsek lainnya yang dijadikan guru bertemu dan sama-sama menyatakan penolakan atas kebijakan tersebut.

Yang juga menolak dijadikan guru, kata Erna, ialah Kepala SDN Inpres Tanamodindi Ertawati, Kepala SDN 27 Mainar, Kepala SDN 17 Masniar, Kepala SDN Inpres 1 Lere Saadiah Saehami, Kepala SDN Kabonena Masuni, kepala SDN Buluri Ulfa. Berikutnya Kepala SDN 1 Lolu Frans, Kepala SDN 2 Lasoani Indrawati, dan beberapa kepsek lainnya yang juga mengalami nasib sama.

“Di sekolah-sekolah yang kepseknya diganti, proses pembelajaran sudah tidak betul. Karena guru-guru loyo juga mengajar. Ini akibat kepsek yang sudah memimpin sekolah sama-sama mereka, mau diganti dengan orang baru,” aku Erna.

Dikonfirmasi terkait hal ini, Kepala Disdik Kota Palu, Ansyar Sutiadi yang kemarin berada di Jakarta menjelaskan, pergantian kepsek yang dilakukan bertujuan baik.


Yakni untuk melakukan penyegaran dan pemerataan mutu pendidikan. Selain itu, kata Ansyar juga membuka peluang bagi guru-guru lain untuk memiliki peluang yang sama menjadi kepsek.

Jika peluang yang sama menjadi kepsek ada, maka kata Ansyar, ada kompetisi antarguru untuk menjadi kepsek.

LANJUT BACA HALAMAN 3

loading...

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Dimutasi jadi Guru Biasa Lagi, Kepsek Merasa Dizalimi"

Posting Komentar